Belitung, 22 Maret 2008
Bagi saya pribadi yang lebih menyukai keindahan pantai dan lautnya, dari perjalanan ke Belitung selama 3 hari 2 malam bersama para Jenuser, highlight dari trip ini adalah pada saat saya berada di Pulau Lengkuas dan Pulau Burung. Pulau Lengkuas sendiri adalah salah satu dari sekian banyak pulau-pulau kecil yang berada di sekitar ‘mainland’ Belitung.
Pagi itu di hari kedua kedatangan kami di Belitung, dengan seluruh rombongan Jenus yang di bagi rata oleh panitia menjadi dua kelompok perahu, menyeberang ke Pulau Lengkuas dari pantai Tanjung Kelayang . Selama perjalanan, mata saya disuguhi dengan keindahan batu-batu granit ukuran besar dalam berbagai bentuk yang seakan-akan mencuat begitu saja dari dalam laut…warna biru dan jernihnya air laut bergradasi dari warna biru terang ke hijau gelap, yang menggambarkan kontur dasar laut yang berpasir dan juga gugusan rumput laut serta terumbu karang di beberapa titik. Saking jernihnya rasanya tidak sabar untuk segera bermain-main di air J

Setelah +/- 1 jam berperahu tampak dikejauhan bangunan mercusuar di pulau Lengkuas. Warnanya yang putih tampak kontras dengan langit yang biru dan hijaunya pepohonan. Benar-benar indah sekali. Konon dari referensi yang saya dapat, mercusuar ini adalah kembaran dari 2 mercusuar lainnya yang berada di Anyer, Banten dan Edam, Kep. Damar Besar..coba deh klik websitenya http://www.unc.edu/~rowlett/lighthouse/idn.htm
Disebutkan bahwa mercusuar yang merupakan mahkota dari Pulau Lengkuas ini didirikan sejak tahun 1882 (sesuai dengan yang tertera di pelat logam di menara) dan masih berfungsi hingga kini. Konstruksi rangka besi baja berwarna putih ini masih kokoh untuk dinaiki. Walau beberapa karat sudah tampak di beberapa tempat, namun dindingnya yang berwarna putih bersih masih tampak. Di lantai dasar terdapar ruang berjeruji yang konon dulunya digunakan sebagai penjara bagi para perompak yang berkeliaran di perairan tersebut. Ditengah-tengah menara terdapat lubang yang menjulang vertical dari bawah hingga pucuk mercusuar. Dengan semangat saya bersama Ajenk dan Merlyn menapaki satu persatu tangga ke puncak mercusuar..diselingi komentar-komentar teman-teman yang lebih dahulu sudah tiba dari atas. Di beberapa lantai kami berhenti untuk sekedar melongok dari jendela untuk melihat pemandangan dari atas. Sayangnya Ajenk akhirnya tidak terus sampai ke atap mercusuar. Akhirnya kami tiba juga di lantai 19 alias puncak dari Mercusuar. Woooowww pemandangannya benar-benar menakjubkan. Dibalik kaca, 360 derajat mata memandang dimana-mana laut biru dengan aneka gradasi..dihiasi dengan batu-batu granit yang berserakan di sana-sini…nun jauh di bawah diantara pasir putih tampak perahu kami bersandar. Nampak titik-titik orange, warna jaket pengaman mengapung di atas jernihnya air laut, menandakan beberapa teman saya sudah tidak tahan untuk ‘nyemplung ke air. Belakangan, saya baru tahu ternyata Melly Guslow menggunakan mercusuar ini sebagai lokasi shooting video klip lagu “RISAU” . Setelah cepat-cepat berfoto diantara lelehan keringat akibat panas bak sauna, saya dan Merlyn segera bergegas turun ke bawah. Niat saya hanya satu…cepat-cepat mendinginkan badan di dalam air ! Bersama-sama Jimmy dan AdeL yang menyusul di belakang, kami sepakat untuk berenang menyeberang ke arah pulau kecil penuh batu granit di seberang Pulau Lengkuas. Arus air yang lumayan di selat dua pulau tersebut tidak menyurutkan ayuhan kami. Benar-benar menyenangkan sekali rasanya. Sayang sekali sepertinya tidak ada seorang pun yang mengabadikan ‘prestasi’ kami bertiga dari seberang pulau hehehehehe
Setelah puas berenang dan berfoto-foto, perjalanan pun dilanjutkan menuju satu pulau kecil bernama Pulau Burung yang katanya lebih ciamik lagi untuk bermain air..Dan memang benar, saya lagi-lagi kembali terpesona dengan keindahannya… Di pulau kecil ini terdapat gundukan batu granit di tepi pantainya..saya sendiri kurang mengerti mengapa disebut pulau Burung..mungkin karena bentuk granitnya itu sendiri yang mirip kepala burung ya……Kontur bawah lautnya sendiri landai berpasir dan tidak terlalu dalam, di beberapa tempat rumput laut tumbuh subur, didaerah sekitaran gundukan batu granit, terumbu karangnya lumayan lebat walaupun tidak terlalu berwarna-warni. Jenis ikan yang banyak saya jumpai adalah ikan-ikan hias dan ikan karang seperti Parrot Fish dan kepe-kepe. Senangnya juga, saat saya snorkeling saya sempat menemukan Kima kecil berwarna hijau yang alhamdulillah masih hidup, Keong Laut yang sedang merangkak di dasar laut berukuran +/- 15 cm dan ada Moray Eel di antara batu karang….Pulau yang indah J J
Dari perjalanan hari itu saya berharap sekali keindahan kedua pulau dan perairan sekitarnya tetap terjaga. Mungkin dengan doa amat teramat sangat, apalagi ketika berperahu mendekati pulau Lengkuas tadi, saya juga sempat mengamati adanya kerangka tiang besi tinggi menjulang di satu pulau kecil dengan gundukan pasir disisinya. Dalam hati saya bertanya-tanya, jangan-jangan tiang tersebut digunakan sebagai alat penambang pasir. Waduh-waduh salah satu bentuk eksplotasi alam lain yang dilakukan oleh manusia di Belitung selain maraknya penambangan-penambangan liar timah yang membuat Belitung tampak carut marut apabila dilihat dari atas udara…
Insiden kecil lain yang juga terlihat di mata kepala saya adalah saat kami tiba kembali di pantai Tanjung Kelayang, pengemudi perahu membuang dengan begitu saja sampah-sampah dan botol-botol minuman ke laut. Kaget dan spontan saya dan teman-teman berteriak memperingati. Namun sang pengemudi kapal sepertinya tidak paham dengan maksud kami jadi tetap saja kaleng-kaleng dan botol berhamburan di air..untung dengan sigap teman-teman mengambil plastic sampah dan berinisiatif mengumpulkan sampah tersebut. Duh ‘nelongso’ juga ya…sepertinya semboyan Jenus dalam trip ke Belitung “SAVE THE OCEAN FOR THE CHILDREN” juga mulai harus segera di kampanyekan di pulau ini.
|