"Scuba Diving", Olahraga Menantang Pelepas Rasa Penat
Suara Pembaruan, 8 Juni 2006
Penat dengan pemandangan Jakarta yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi dan kemacetan panjang? Itu berarti sudah saatnya Anda mencoba sesuatu yang baru. Scuba diving boleh menjadi pilihan. Selain menantang, olahraga air ini juga mampu melepas kejenuhan sehari-hari. Pemandangan alam bawah laut akan memanjakan mata, sekaligus memberikan pengalaman baru bagi para pelakunya.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak sekali lokasi diving yang tak kalah dengan lokasi-lokasi di luar negeri. Meningkatnya peminat traveling atau melancong yang sekaligus ingin diving berdampak pula pada tumbuh suburnya sekolah atau kursus diving. Maklum, untuk bisa diving, seseorang harus memiliki surat izin yang dikeluarkan oleh beberapa organisasi diving internasional. Dan untuk memiliki surat ijin tersebut, ia tentunya harus mengikuti pendidikan diving terlebih dulu.
Program itulah yang ditawarkan Jakarta Underwater Scuba Society (JaWSS). Menurut Firman, divemaster di komunitas ini, untuk bisa ber-diving ria di laut lepas, tidaklah dibutuhkan perlengksapan yang rumit. "Yang harus dimiliki secara pribadi hanyalah alat skin diving yang terdiri atas fin atau kaki katak, masker dan snorkel. Untuk alat scuba diving yang terdiri atas regulator, tabung oksigen dsb bisa pinjam dari rental dengan harga terjangkau," tutur Firman kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (7/6) siang.
Bahkan, ia menambahkan, untuk bisa diving, kemampuan berenang pun tidaklah esensial. Lho? "Kami selalu bilang kepada para siswa, diving is not swimming. Para diver juga tidak selalu jago berenang kok. Yang penting bisa mengambang di air. Apalagi, saat diving kita kan memakai peralatan skin diving yang sangat membantu untuk bisa mengambang dan bergerak di air. Ditambah jika ada arus air laut, diving pun menjadi lebih mudah tanpa harus jago berenang," jelasnya.
Para murid di JaWSS akan mendapatkan surat izin diving yang dikeluarkan oleh PADI, sebuah lembaga pendidikan diving internasional. Untuk mendapatkannya, mereka harus mengikuti pendidikan yang terdiri atas tujuh sesi. Dua sesi pertama adalah pemberian teori. Di sini, materi mulai dari pengenalan biota laut, peralatan scuba diving hingga hukum fisika dan anatomi manusia diajarkan.
Tiga sesi selanjutnya adalah sesi perkenalan di kolam. Sementara sisanya adalah sesi praktek di laut lepas. Jika dinilai baik, siswa akan mendapatkan surat sertifikasi diving yang harus diperlihatkannya setiap kali akan diving di mana pun di seluruh dunia. "Yang paling sulit biasanya adalah sesi praktek di laut. Pasalnya, banyak teori di kelas dan praktek di kolam renang yang akan berbeda dengan yang bisa dialami di laut. Dibutuhkan adaptasi sebanyak kira-kira dua kali diving untuk seorang siswa hingga bisa menyesuaikan diri dengan kondisi laut," kata Firman.
Sudah Mapan
Komunitas diving yang berdiri sejak tiga tahun lalu ini sudah meluluskan puluhan diver. Firman mengaku, siswa yang diajarinya ber-diving umumnya adalah mereka yang sudah mapan dan memiliki penghasilan sendiri. Usianya pun bervariasi, antara 25 tahun hingga 50 tahun. "Mungkin karena harganya cukup mahal, jadi yang berani ikut hanya mereka yang sudah punya uang sendiri," katanya seraya tersenyum.
Pendapat Firman sedikit disanggah oleh Agung Jaya, pemilik Planet Diving, sebuah diving center yang berlokasi di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Selatan. Menurutnya, jika dibandingkan enam tahun lalu, diving kini bisa dinikmati dengan harga relatif terjangkau. Di Planet Diving, kursus diving dengan sertifikat dari PADI bisa didapat dengan harga Rp 1,5 juta plus biaya tambahan untuk materi di laut yang diserahkan kepada peserta. Sementara kursus di JaWSS bisa diikuti dengan membayar Rp 2,9 juta, bersih tanpa tambahan lain.
"Waktu saya pertama diving pada tahun 2000-an, sulit sekali mencari kursus diving. Tarifnya pun mahal-mahal, bisa mencapai ratusan dolar AS. Kini, diving bisa dilakukan dengan tariff cukup terjangkau. Untuk peralatan, semua bisa disewa kan," kata Agung. Ia memberi ilustrasi, untuk diving ke Pantai Sangiang, Anyer, Banten, selama satu hari penuh, peserta hanya membayar Rp 450 ribu. Harga tersebut termasuk makan, snack, transportasi dan akomodasi. Sementara untuk diving di Bunaken, Sulawesi Utara, ia mematok harga sekitar Rp 5 juta untuk 5 hari 6 malam, termasuk transportasi, akomodasi dan perlengkapan diving selama di sana.
"Bahkan, belakangan ini banyak peserta kursus diving di tempat saya yang dibayari oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Beberapa perusahaan yang sudah mulai melakukan langkah itu adalah Microsoft, Global Jaya dan Star Energy. Tambah banyak siswa saya kian senang, karena sejak awal saya memang ingin mengenalkan diving ke seluruh masyarakat Indonesia. Negara kita kan negara kepulauan. Masa jumlah diver aktifnya lebih sedikit dibanding Singapura? Apalagi, lokasi diving terbaik saat ini ada di Indonesia, di daerah Papua," jelas Agung.
Kalau begitu, diving yuk!
(Suara Pembaruan, Irawati Diah Astuti)